ARDHIII'S BLOG

ARDHIII'S BLOG

Jumat, 28 November 2014

Kelarutan sebagai fungsi suhu

BAB 1
PENDAHULUAN

1.1              Latar Belakang
Kelarutan adalah jumlah zat yang dapat larut dalam sejumlah pelarut sampai membentuk larutan jenuh. Apabila suatu larutan suhunya diubah, maka hasil kali kelarutannya juga akan berubah. Larutan ada yang jenuh, tidak jenuh, dan lewat jenuh. Larutan dikatakan jenuh pada temperature tertentu, bila larutan tidak dapat melarutkan lebih banyak zat terlarut. Bila jumlah zat terlarut kurang dari larutan jenuh disebut larutan tidak jenuh, dan bila jumlah zat terlarut lebih dari larutan jenuh disebut larutan lewat jenuh. Daya larut suatu zat dalam zat lain, dipengaruhi oleh jenis zat pelarut, temperatur, dan sedikit tekanan.
Pengaruh suhu terhadap kelarutan dapat dilihat pada peristiwa sederhana
yang terjadi pada kehidupan sehari-hari yaitu kelarutan gula dalam air. Gula yang dilarutkan ke dalam air panas, dan satu lagi dilarutkan ke dalam air dingin, maka gula yang akan lebih cepat larut pada air panas karena semakin besar suhu semakin besar pula kelarutannya. Aplikasi lainnya yaitu pada bidang industri pada pembuatan reactor kimia, pada proses pemisahan dengan cara pengkristalan integral, selain itu juga dapat digunakan untuk dasar atau ilmu dalam proses pembuatan grandul-grandul pada industri baja.
Oleh karena itu percobaan tentang kelarutan sebagai fungsi suhu ini
dilakukan agar mempelajari tentang kelarutan dan pengaruh suhu terhadap kelarutan serta mengetahui aplikasi dalam kehidupan sehari-hari maupun bidang industri.

1.2              Tujuan
-          Mengetetahui fungsi dari penambahan indikator PP
-          Mengetahui konsentrasi asam oksalat dari suhu 40°C, 30°C, 20°C, 10°C
-          Mengetahui pengaruh suhu dalam kelarutan suatu zat


BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

            Yang dimaksud dengan kelautan dari suatu zat dalam suatu pelarut adalah banyaknya suatu zat yang dapat larut secara maksimum dalam suatu pelarut pada kondisi tertentu. Biasanya dinyatakan dalam satuan mol/ liter. Jadi bila batas kelarutan tercapai, maka zat yang dilarutkan itu dalam batas kesetimbangan, artinya bila zat terlarut ditambah, maka akan terjadi larutan yang belum jenuh. Dan kesetimbangan tergantung pada suhu pelarutan (Hoedijono, 1990).
            Dua komponen dalam larutan adalah solute dan solvent. Solute adalah substansi yang terlarut. Sedangkan solvent adalah substansi yang melarutkan, contoh sebuah larutan NaCl. NaCl adalah solute dan air adalah solvent. Dari ketiga materi, padat, cair dan gas, sangat dimungkinkan untuk memiliki semblan tipe larutan yang berbeda: padat dalam padat, padat dalam cairan, padat dalam gas, cairan dalam cairan, dan sebagainya. Dari berbagai macam tipe ini larutan yang lazim kita kenal adalah padatan dalam cairan, cairan dalam cairan, gas dalam cairan, dan gas dalam gas (Yazid. Estien, 2005).
            Suatu substansi dapat dikelompokkan sangat mudah larut, dapat larut (Moderately Soluble), sedikit larut (Slightly Soluble), dan tidak dapat larut. Beberapa variabel, misalnya ukuran ion-ion, muatan dari ion-ion, interaksi  atara ion-ion, interaksi antara solute dan solvent, temperature, mempengaruhi kelarutan. Kelarutan dari solute relatif mudah diukur melalui percobaan. Beberapa faktor yang berhubungan dengan kelarutan antara lain:
1.    Sifat alami dari solute dan solvent
Substansi polar cenderung lebih miscible atau soluble dengan substansi polar lainnya. Substansi non polar cenderung untuk miscible dengan substansi nonpolar lainnya, dan tidak miscible dengan substansi polar lainnya.
2.      Efek dari temperature terhadap kelarutan
Kebanyakan zat terlarut mempunyai kelarutan yang terbatas pada sejumlah solvent tertentu dan pada temperatur tertentu pula. Temperature dari solvent memiliki efek yang besar dari zat yang telah larut. Untuk kebanyakan padatan yang terlarut pada liquid, kenaikkan temperatur akan berdampak pada kenaikkan kelarutan (Solubilitas).
3.      Efek tekanan pada kelarutan
Perubahan kecil dalam tekanan memiliki efek yang kecil pada kelarutan dari padatan dalam cairan tetapi memiliki efek yang besar pada kelarutan gas dalam cairan. Kelaruatn gas dalam cairan berbanding langsung pada tekanan dari gas  diatas larutan. Sehingga sejumlah gas yang terlarut dalam larutan akan menjadi dua kali lipat jika tekanan dari gas diatas larutan adalah dua kali lipat.
4.      Kelajuan dari zat terlarut
a.       Ukuran partikel
b.      Temperatur dari solvent
c.       Pengadukan dari larutan
d.      Konsentrasi dari larutan (Sukardjo, 1997).
Efek panas dalam pembentukan larutan dapat digunakan dalam penerapan prinsip Le. Chateliers untuk menghitung efek temperature pada kelarutan. Dengan menggunakan terminology dari thermodinamika, bahwa kandungan panas atau entalphy dari sistem telah meningkat sesuai dengan jumlah energi thermal (heat molar vaporization atau DHv). Perubahan entalphy untuk proses diberikan dengan mengurangi entalpy akhir sistem dengan entalphy mula-mula.
DH = Hhasil – Hhasil
Secara umum DH positif untuk setiap perubahan maksroskopik yang terjadi pada tekanan konstan jika energi panas mengalir keluar. Proses dimana entalpi dalam sistem meningkat disebut proses endotermik, sedangkan entalpi yang mengalami penurunan disebut eksotermik. Perubahan entalpi terbatas hanya pada aliran panas jika proses tersebut terbawa keluar sehingga tekanan mula-mula dan akhir adalah sama, dan sistem adalah tertutup. Pembentukan dari larutan apakah itu eksotermik atau endotermik tergantung pada temperatur dan sifat alamiah solute dan solvent untuk memprediksi efek dari perubahan temperatur. Kita dapat menggunakan prinsip Le-Chatekiers, sangatlah diperlukan untuk memperhitungkan perubahan entalpi untuk proses pelarutan dari kondisi larutan jenuh. Entalpi molar dari larutan (DH1) sebagai jumlah kalor dari energi panas yang seharusnya tersedia (DH1 positif) ataupun yang seharusnya dipindahkan (DH1 negatif) untuk menjaga agar temperatur tetap konstan yang mana didalamnya terdapat satu mol zat terlarut dalam volume yang sangat besar yang mendekati larutan jenuh untuk menghasilkan larutan jenuh.
Jika entalpi dari larutan adalah negatif peningkatan temperatur menyebabkan penurunan kelarutan. Kebanyakan padatan solute memiliki entalpi positif dari larutan sehingga kelarutan mereka meningkat sesuai dengan kenaikkan temperatur. Hampir semua perubahan kimia merupakan proses eksotermik ataupun proses endotermik. Hampir semua perubahan kimia merupakan proses eksotermik. Kebanyakan, tetapi tidak semua reaksi yang terjadi secara spontan adalah reaksi eksotermik (Sukardjo, 1997).
Asam oksalat adalah senyawa kimia yang memiliki rumus H2C2O4 dengan nama sistematis asam etanadioat. Asam karboksilat paling sederhana ini bisa digambarkan dengan rumus HOOC – COOH. Merupakan asam organik yang relatif kuat, 10.000 kali lebih kuat dari asam asetat. Dianionnya, dikenal sebagai oksalat, juga akan pereduktor. Banyak ion logam yang membentuk endapan tak larut dengan asam oksalat, contoh terbaik adalah kalsium (CaOOC-COOCa), penyusun utama jenis batu ginjal yang sering ditemukan. Asam oksalat memiliki massa molar 90.30 gr mol-1, dengan penampilan berupa kristal putih, densitasnya 1,90 gr cm-3. Kelrutan dalam air yaitu 90 gr dm-3(pada suhu 2OoC) dan keasamannya (pKa) yaitu 1, 38, 4, 28. Titik nyala yaitu 166oC. Senyawa-senyawa yang terkait yaitu Oksalil klorida, Dinadium oksalat, Kalsium oksalat, dan Fenil oksalat ester. Data diatas berlaku pada temperatur dan tekanan standar (25oC, 100 kPa).
Natrium hidroksida (NaOH), juga dikenal sebagai soda kaustik atau soda hidroksida adalah sejenis basa logam kauslik. NaOH membentuk larutan alkalin yang kuat ketika dilarutkan kedalam air. Ia digunkan diberbagai macam industri, kebanyakan digunakan sebagai basa dalam proses tekstil, air minum, sabun dan detergen. NaOH adalah basa yang paling umum digunakan dilabolatorium kimia. NaOH murni berbentuk putih padat dan tersedia dalam bentuk pellet, serpihan, butiran ataupun larutan jenuh 50%. Bersifat lembab cair dan secara spontan menyerap karbon dioksida dari udara bebas. NaOH sangat larut dalam air dan akan melepaskan panas ketika larutan. Ia juga larut dalam etanol dan metanol. Walaupun kelarutan NaOH dalam kedua cairan ini lebih kecil dari pada kelarutan KOH. Tidak larut dalam dietil eter dan pelarut non polar lainnya, meninggalkan noda kuning pada kain dan kertas. Massa molar NaOH yaitu 39,9971 gr/mol. Penampilan berupa zat padat putih, densitasnya 2,1 gr/cm3, padat, titik lelehnya 3,8oC (591 K), titik didih 1390oC (1663 K), kelarutan dalam air 111 gr/100 ml (20oC), kebebasan (pKe) yaitu – 2, 43, titik nyalanya yairu tidak mudah menguap.
Indikator adalah suatu zat pennjuk yang dapat membedakan larutan, asam atau basa atau netral. Alearts dan Santika (1984) melampirkan beberapa indikator dan perubahannya pada trayek pH tertentu, kegunaan indikator ini adalah untuk mengetahi beberapa kira-kira pH suatu larutan. Disamping itu juga digunakan untuk mengetahui titik akhir konsentrasi pada beberapa analisa kuantitatif senyawa organik dan senyawa anorganik,
Fenol ftalein adalah indkator titras iyang lain yang sering digunakan dan fenol ftalein ini merupakan bentuk asam lemah yang lain. Pada kasus ini, asam lemah tidak berwarna dan ion-ionnyaberwanra merah muda terang. Penambahan ion hidrogen berlebih menggeser posisi kesetimbangan kearah kiri dan mengubah indikator menjadi tak berwarna. Penambahan ion hidroksida menghilangkan ion hidrogen dari kesetimbangan yang mengarah kekanan untuk menggantikannya mengubah indikator menjadi merah muda. Setelah tingkat terjadi pada pH 9,3. Karena pencampuran warna merah muda dan tak berwarna menghasilkan warna merah muda pucat, hal ini sulit untuk mendeteksinya dengan akurat.




BAB 3
METODOLOGI PERCOBAAN

3.1 Alat dan bahan
3.1.1 Alat
-        Pipet volume 10 ml
-        Tiang klem
-        Buret
-        Hot plate
-        Termometer
-        Labu Erlenmeyer
-        Gelas ukur
-        Labu takar 100 ml
-        Corong gelas
-        Pipet tetes

3.1.2 Bahan
-        Larutan H2C2O4 2N
-        Larutan NaOH 0,2N
-        Indikator pp
-        Es batu
-        Aquades
-        Kertas label
-        Tissue

3.2 Prosedur percobaan
3.2.1 Kelarutan NaOH pada suhu 40oC
-        Dipipet 10 ml asam oksalat 2N ke dalam labu takar 100 ml
-        Diencerkan asam oksalat 10 ml tersebut dengan aquades hingga volumenya 100 ml (mencapai tanda batas)
-        Dipipet 20 ml asam oksalat yang telah diencerkan ke dalam Erlenmeyer
-        Dipanaskan Erlenmeyer yang berisi asam oksalat 20 ml hingga suhunya 60oC, kemudian diturunkan hingga suhunya 40oC dengan meletakkan Erlenmeyer di atas es batu
-        Ditambahkan ke dalam Erlenmeyer tersebut 1-2 tetes indikator pp, kemudian di titrasi dengan NaOH 0,2N hingga larutan mengalami perubahan warna menjadi merah muda.

3.2.2 Kelarutan NaOH pada suhu 30oC
-        Dipipet 10 ml asam oksalat 2N ke dalam labu takar 100 ml
-        Diencerkan asam oksalat 10 ml tersebut dengan aquades hingga tanda batas
-        Dipipet 20 ml asam oksalat yang telah diencerkan ke dalam Erlenmeyer
-        Dipanaskan Erlenmeyer yang berisi asam oksalat 20 ml hingga suhunya 60oC, kemudian diturunkan hingga suhunya 30oC dengan meletakkan Erlenmeyer di atas tumpukan es batu
-        Ditambahkan ke dalam Erlenmeyer tersebut 1-2 tetes indikator pp, kemudian di titrasi dengan NaOH 0,2N hingga larutan mengalami perubahan warna menjadi merah muda.

3.2.3 Kelarutan NaOH pada suhu 20oC
-        Dipipet 10 ml asam oksalat 2N ke dalam labu takar 100 ml
-        Diencerkan asam oksalat 10 ml tersebut dengan aquades hingga tanda batas
-        Dipipet 20 ml asam oksalat yang telah diencerkan ke dalam Erlenmeyer
-        Dipanaskan Erlenmeyer yang berisi asam oksalat 20 ml hingga suhunya 60oC, kemudian diturunkan hingga suhunya 20oC dengan meletakkan Erlenmeyer di atas tumpukan es batu
-        Ditambahkan ke dalam Erlenmeyer tersebut 1-2 tetes indikator pp, kemudian di titrasi dengan NaOH 0,2N hingga larutan mengalami perubahan warna menjadi merah muda.

3.2.2 Kelarutan NaOH pada suhu 10oC
-        Dipipet 10 ml asam oksalat 2N ke dalam labu takar 100 ml
-        Diencerkan asam oksalat 10 ml tersebut dengan aquades hingga tanda batas
-        Dipipet 20 ml asam oksalat yang telah diencerkan ke dalam Erlenmeyer
-        Dipanaskan Erlenmeyer yang berisi asam oksalat 20 ml hingga suhunya 60oC, kemudian diturunkan hingga suhunya 10oC dengan meletakkan Erlenmeyer di atas tumpukan es batu
-        Ditambahkan ke dalam Erlenmeyer tersebut 1-2 tetes indikator pp, kemudian di titrasi dengan NaOH 0,2N hingga larutan mengalami perubahan warna menjadi merah muda.





BAB 4
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Pengamatan
       Tabel pengamatan sistem NaOH . H2C2O4
V H2C2O4
[H2C2O4]
V NaOH
[NaOH]
T
20 ml
20 ml
20 ml
20 ml
2 N
2 N
2 N
2 N
1,1 ml
1,1 ml
1,0 ml
1,1 ml
0,2 N
0,2 N
0,2 N
0,2 N
40o
30o
20o
10o

4.2 Reaksi
4.2.1 Reaksi antara NaOH + H2C2O4
                                2NaOH(aq) + H2C2O Ã   Na2C2O4(aq) + 2H2O(â„“)

4.2.2 Reaksi antara NaOH  + indikator PP







4.3 Perhitungan
4.3.1 Mencari konsentrasi asam oksalat
4.3.1.1 N1 H2C2Opada suhu 40oC
                        Diketahui  : VH2C2O4      = 20 ml
                                 NNaOH        = 0,2 N . 2
                                                     = 0,4 N
                                 VH2C2O4    = 1,1 ml
                        Ditanya  : NH2C2O4 ?
                        Dijawab  : NH2C2O4 . VH2C2O4   =  NNaOH .VNaOH
                             NH2C2O4   .   20 ml    =  (0,4 N x 1,1 ml) / 20 ml
                                             NH2C2O4  = 0,022
§  Faktor Pengenceran = 100/10 = 10

§  NH2C2O4 x Faktor Pengenceran
= 0,022 x 10
= 0,22 N

4.3.1.2 N2 H2C2Opada suhu 30oC
                        Diketahui  : VH2C2O4      = 20 ml
                                  NNaOH      = 0,2 N . 2
                                                 = 0,4 N
                                VH2C2O4     = 1,1 ml
                        Ditanya  : NH2C2O4 ?
            Dijawab  : NH2C2O4 . VH2C2O4   =  NNaOH . VNaOH
                             NH2C2O4   .   20 ml    =  (0,4 N x 1,1 ml) / 20 ml
                                             NH2C2O4  = 0,022
§  Faktor Pengenceran = 100/10 10

§  NH2C2O4 x Faktor Pengenceran
= 0,022 x 10
= 0,22 N

4.3.1.3 N3 H2C2Opada suhu 20oC
            Diketahui  :   VH2C2O4    = 20 ml
                                  NNaOH     = 0,2 N . 2
                                                 = 0,4 N
                                  VH2C2O4   = 1,1 ml
            Ditanya  : NH2C2O4 ?
            Dijawab  : NH2C2O4 . VH2C2O4   =  NNaOH . VNaOH
                             NH2C2O4   .   20 ml    =  (0,4 N x 1,1 ml) / 20 ml
                                             NH2C2O4  = 0,022
§  Faktor Pengenceran = 100/10 10

§  NH2C2O4 x Faktor Pengenceran
= 0,022 x 10
= 0,22 N

4.3.1.4 N4 H2C2Opada suhu 10oC
            Diketahui  : VH2C2O4  = 20 ml
                                 NNaOH     = 0,2 N . 2
                                               = 0,4 N
                                 VH2C2O4  = 1,1 ml
            Ditanya  : NH2C2O4 ?
            Dijawab  : NH2C2O4 . VH2C2O4   =  NNaOH . VNaOH
                             NH2C2O4   .   20 ml    =  (0,4 N x 1,1 ml) / 20 ml
                                             NH2C2O4  = 0,022
§  Faktor Pengenceran = 100 / 10 = 10

§  NH2C2O4 x Faktor Pengenceran
= 0,022 x 10
= 0,22 N

4.4 Pembahasan
              Suatu zat dapat larut dalam pelarut tertentu, tetapi jumlahnya selalu terbatas. Batas itu disebut kelarutan. Kelarutan adalah suatu zat terlarut yang dapat melarut pada sejumlah pelarut pada suhu tertentu sampai membentuk larutan jenuh. Kelarutan suatu zat dapat ditentukan dengan menimbang zat yang akan ditentukan kelarutannya. Kemudian dilarutkan, misalnya dalam 100 ml pelarut. Jumlah zat yang ditimbang harus diperkirakan dapat membentuk larutan lewat jenuh, yang ditandai masih tepatnya zat yang tidak larut. Didasar wadah setelah dilakukan pengocokkan dan didiamkan. Setelah terjadi kesetimbangan antara zat padat yang larut dan yang tidak larut.Padatan yang tidak larut lalu disaring dan ditimbang. Selisih berat awal dan berat padatan yang tidak larut merupakan kelarutan zat tersebut dalam 100 ml. Daya larut suatu zat berbeda-beda tergantung dari sifat zat terlarut dan pelarutnya. Ada beberapa zat yang mudah larut dan ada pula yang sukar larut. Biasanya kelarutan dinyatakan dalam gram zat tersebut per 100 ml atau per 100 gram pelarut.
              Suatu larutan jika merupakan keseimbangan dinamis. Kesetimbangan tersebut akan dapat bergeser bila suhu dinaikkan. Pada umumnya kelarutan zat padat dalam larutan bertambah bila suhu dinaikkan karena umumnya proses pelarutan bersifat endotermik. Pengaruh kenaikkan suhu pada kelarutan zat berbeda satu dengan yang lainnya.
              Suatu substansi dapat dikelompokkan sangat mudah larut, dapat larut, sedikit larut dan tidak dapat larut. Beberapa variable, misalnya ukuran ion-ion, interaksi antara ion-ion, interaksi antara solute dan solvent, temperature, mempengaruhi larutan. Kelarutan dari solute relatif mudah di ukur melaui percobaan. Beberapa faktor yang mempengaruhi kelarutan antara lain: sifat alami dari solute dan solvent, merupakan substansi polar cenderung lebih miscible atau solube dengan substansi polar lainnya. Substansi non polar cenderung untuk bercampur dengan substansi non polar lainnya, dan tidak bercampur dengan substansi polar lainnya; Efek dari temperatur terhadap kelarutan yaitu kebanyakan zat terlarut mempunyai kelarutan yang terbatas pada sejumlah solvent tertentu dan pada temperatur tertentu pula. Temperatur dari solvent memiliki efek yang besar dari zat yang telah larut. Untuk kebanyakan padatan yang terlarut pada liqiud, kenaikkan temperature akan berdampak pada kelarutan (solubilitas). Jika kelarutan zat padat bertambah dengan kenaikkan suhu, maka kelarutan gas berkurang bila suhu dinaikkan, karena gas menguap dan meninggalkan pelarut. Luas permukaan sentuhan zat kecepatan kelarutan dapat dipengaruhi juga oleh permukaan (besar, kecilnya partikel zat terlarut). Luas permukaan sentuhan zat terlarut dapat diperbesar melalui proses pengadukkan atau pengerusan secara mekanis. Gula halus lebih mudah larut dari pada gula pasir. Hal ini karena luas bidang sentuh gula halus lebih luas dari gula pasir. Sehingga gula halus lebih mudah berinteraksi dengan air; Daya hantar listrik, air murni merupakan penghantar listrik yang buruk akan tetapi jika dala air tersebut ditambahkan zat terlarut maka sifat daya hantarnya akan berubah sesuai dengan jenis zat yang dilarutkan; Efek tekanan pada kelarutan yaitu perubahan kecil dalam tekanan memiliki efek yang kecil pada kelarutan dari padatan dalam cairan  tetapi memiliki efek yang besar pada kelarutan gas dalam cairan. Kelarutan gas dalam cairan berbanding langsung pada tekanan dari gas  diatas larutan, sehingga sejumlah gas yang terlarut dalam larutan akan menjadi dua kali lipat tekanan dari gas diatas larutan adalah dua kali lipat; Kelajuan dari zat terlarut, dimana zat padat terlarut dipengaruhi oleh ukuran partikel, tempeatur dari solvent, pengadukan dari larutan, dan konsentrasi dari larutan; pelarut yaitu kebanyakan garam anorganik lebih dapat larut dalam pelarut anorganik dan garam oragnik lebih dapat larut dalam pelarut organik, ion-ion dalam kristal tidak memiliki gaya tarik yang lebih besar terhadap molekul pelarut organik. Oleh karena itu, biasanya kelarutannya lebih rendah dibandingkan kelarutan dalam air; Pengaruh aktivitas yaitu ternyata banyak endapan menunjukkan kelarutan yang meningkat dalam larutan yang mengandung ion-ion yang tidak bereaksi secara kimia dengan ion-ion endapan; Pengaruh pH yaitu ion hidrogen yang bersenyawa dengan anion suatu garam u tuk membentuk asam lemah, dengan demikian meningkatkan kelarutan garam itu. Pada larutan yang keasamannya cukup tinggi, anion asam lemah tidak mengubah pH secara berarti; Volume yaitu volume berbanding terbalik dengan tekanan, karena volume yang besar menyebabkan kelarutannya semakin rendah, hal ini di sebabkan apabila volume tinggi, maka tumbukannya antara partikel yang satu dengan yang lain akan semakin jarang terjadi dan reaksi akan berjalan lambat sehingga zat terlarut akan sulit larut dalam zat.
              Pada percobaan kelarutan sebagai fungsi suhu, hal pertama yang kita lakukan adalah mempipet 10 ml asam oksalat kedalam labu takar 100 ml, kemudian diencerkan asam oksalat 10 ml tersebut dengan aquades hingga volumenya 100 ml, hingga tanda batas. Dipipet 20 ml asam oksalat yang telah diencerkan kedalam erlenmayer. Kemudian dipanaskan erlenmayer yang berisi asam oksalat 20 ml hingga suhunya 60oC. Fungsi dipanaskan adalah agar suhunya meningkat, karena apabila suhunya dinaikkan energi kinetiknya meningkat dan semakin sering terjadinya tumbukan sehingga reaksi akan berlangsung lebih cepat. Dipanaskan hingga suhu 60oC, karena suhu tersebut merupakan suhu optimum. Lalu suhu diturunkan berturut-turut hingga 40oC, 30oC, 20oC, dan 10oC. Untuk menurunkan suhu larutan, gelas piala yang berisi larutan diletakkan didalam wadah yang berisi es batu. Disini asam oksalat sebagai solut (zat terlarut) dan H2O sebagai solvent (zat pelarut). Fungsi penurunan suhu, agar dapat mengetahui kelarutan pada suhu yang berbeda. Larutan asam oksalat memiliki kelarutan yang tinggi seiring dengan kenaikan suhu. Kemudian ditambahkan 1-2 tetes indikator PP kedalam erlenmayer. Untuk mengetahui konsentrasi asam oksalat pada masing-masing suhu, larutan asam oksalat ditambahkan indikator PP. Penambahan indikator PP ini bertujuan untuk mengetahui titik ekuivalen dari larutan asam oksalat. Larutan asam oksalat memiliki kelarutan yang tinggi seiring dengan kenaikkan suhu. Indikator PP memiliki trayek pH 4,2-6,3 dan berwarna bening pada suasana asam dan berwarna merah muda pada suasana basa. Kemudian dititrasi dengan NaOH 0,2 N. Lalu kemudian dicatat volume yang didapat. Pada suhu 40oC, larutan asam oksalat dititrasi dengan menggunakan NaOH 0,2 N dan didapat volume NaOH adalah 1,1 ml, sehingga dapat dihitung N H2C2O4 adalah sebesar 0,022 N dengan laju reaksi -3, 6741 x 10-3 J/mol.K. Pada suhu 30oC, larutan asam oksalat dititrasi dengan menggunakan NaOH 0,2 N dan didapat volume NaOH adalah 1,1 ml, sehingga dapat dihitung N H2C2O4 adalah sebesar 0,022 N dengan laju reaksi -5, 6930 x 10-3 J/ mol.K. Pada suhu 20oC, larutan asam oksalat dititrasi dengan menggunakan NaOH 0,2 N dan didapat volume NaOH adalah 1,0 ml, sehingga dapat dihitung N H2C2O4 adalah sebesar 0,022 N dengan laju reaksi -7,8497 x 10-3 J/ mol.K. Dan padaada suhu 10oC, larutan asam oksalat dititrasi dengan menggunakan NaOH 0,2 N dan didapat volume NaOH adalah 1,1 ml, sehingga dapat dihitung N H2C2O4 adalah sebesar 0,022 N dengan laju reaksi -1, 106 x 10-2 J/ mol.K.
              Aplikasi panas kelarutan dalam industri adalah dalam pembuatan reactor kimia, bila panas pelarutnya diketahui untuk menghindari kerusakan pada reactor karena kondisi thermal tertentu dengan kelarutan reactor tersebut.
              Prinsip percobaan pada praktikum kali ini adalah menentukan panas pelarutan dari asam oksalat. Asam okslat merupakan asam dikarboksilat dengan rumus kimia H2C2O4, padatan kristal tak berwarna dan bersifat racun. Pertama-tama dilkukan pengenceran pada asam oksalat, kemudian dinaikkan suhunya hingga 60oC sebelum H2C2Odititrasi dengan NaOH, terlebih dahulu suhu diturunkan hingga mencapai 40, 30, 20,10oC. Kemudian kedalam larutan ditambahkan indikator PP. Indikator PP merupakan senyawa organik yang mempunyai rumus molekul C2OH14O4. Setelah itu dapat di hitung volume NaOH. Mol NaOH merupakan hasil kali antara konsentrasi dengan volume NaOH yang dibutuhkan.




BAB 5
PENUTUP

5.1       Kesimpulan
-      Penambahan indikator PP berfungsi untuk mengetahui terjadinya suatu titik ekivalen dalam proses pentitrasi dengan terjadinya perubahan warna pada larutan
-      Konsentrasi asam oksalat dari masing-masing suhu adalah pada suhu 40°C sebesar 0,22 N, pada suhu 30°C sebesar 0,2 N, pada suhu 20°C sebesar 0,2 N dan pada suhu 10° C sebesar 0,22 N.
-      kelarutan suatu zat akan bertambah seiring dengan semakin meningkatnya suhu. Hal ini disebabkan karena semakin tinggi suhu/temperature tumbukan antar partikel-partikel dalam zat tersebut semakin cepat sehingga akan mempercepat terjadinya reaksi (palarutan).

5.2       Saran
Sebaiknya pada praktikum selanjutnya digunakan reagen lebih dari satu tidak hanya H2C2O4, misalnya H2S sehingga praktikan lebih bertambah wawasannya.



DAFTAR PUSTAKA

Ismarwanto, Hoedjiono. 1990. Diktat Kuliah Kimia Analisa Bag. 1. Surabaya: FTI ITS

Sukardjo. 1997. Kimia Fisika. Jakarta: Rineka Cipta

Yazid, Estien. 2005. Kimia Fisika Untuk Paramedis. Yogyakarta: Penerbit Andi